senyum-mu itu seperti PIL yang membuatku CANDU,
dan itu takkan LARUT.
Dalam himpit sendu, kau merunduk
tidak berkata juga berupa
terkadang lupa, bahwa rasa itu peka |
Tak salah dengan diam,
tak salah juga dengan bising gaduh yang beradu
..
semua satu, iya itu rasa |
Memintal atau memilin
Tambah atau kurang
Titik atau koma
Angin atau hujan
lalu gelap atau terang,
semua tak cukup sebatas iya tau tidak
..
Tak habis kata untuk diucap |
semua tersimpan di balik asa
semua tersirat
bukan lelucon kehidupan, hanya saja
di sebut pemanis dalam kehidupan
~
Menangis
Mengutip
Menulis
juga Tertawa
jika terlewatkan, kau hampa dalam suasana abjad |
Seperti kali ini, menarilah layaknya sang penari
walau tidak secantik bunga
dan walau tidak sehalus bulu merak
Karena kau seorang pemain
..
pemain yang kan tetap melukis rasa
~~
Jika diammu itu untuk mengajariku,
maka aku terajar /
Jika lelahmu menguatkanku,
maka aku kuat /
Jika sakitmu menyiksa,
maka aku akan lebih tersiksa //
~
Teruntukmu kekasih pujaanku.
Waktu itu transisi,
Berisi dan memadati
Berisik juga sering mati suri
Bersisik tapi licin menghantui
Berbuih dalam dingin dan lirih
…
Waktu itu udara dalam ruang hampa
…
Waktu itu semburat kata tanpa kalimat
yang jika ditulis masih tak mampu di peka
…
Waktu itu penjuru angin yang mewarnai musim
silih berganti tak terganti
…
Waktu itu lintasan dalam doa yang terlantun dinamis
dan terikat rapi di tepi bibir
…
Waktu itu, Kamu dan Aku
~
Aku menunggu dibalik pintu,
Menunggu langkah si penghantar rasa,
Menanti untaian sekelumit kata,
Darimu si Tuan pemilik rasa.
Siramiku dengan hujan,
Hangatiku dengan awan,
Senyumiku dengan rupamu yang tampan,
Kau.. lelaki yang disebut idaman.
Sembah ku diam, sunyi dan pekat..
Sembah ku diam, melekat dan pekat
Sembah ku diam, hanya Engkau Sang Raja Dunia!